Catatan Magangers Hari ke-4 : belajar menanam sistem wick hidroponik

Catatan Magangers Hari ke-4 : belajar menanam sistem wick hidroponik

Hari ini, 09 Februari 2018 kembali saya tuliskan apa yang saya lakukan selama sehari penuh dan dengan target kata yaang telah ditetapkan. Hari ini masih tidak jauh berbeda dengan yang kemarin-kemarin, hanya saja yang saya lakukan hari ini lebih spesifik dan fokus hanya ke bebrerapa task saja. Yaitu di segmen sistem hidroponik wick dan vertical sytem making full.

Wick Sytem

Hidroponik dengan sumbu (sistem wick) merupakan teknik budidaya yang paling sederhana dan juga populer dipergunakan oleh para pemula. Wick sistem tergolong pasif dan nutrisi mengalir kedalam media tumbuhan dari wadah yang menggunakan sejenis sumbu. Cara membuat hidroponik dengan sumbu (sistem wick) ini bekerja dengan baik untuk tumbuhan dan tanaman kecil. Namun sistem ini tidak dapat bekerja dengan baik pada tanaman yang membutuhkan banyak air. Penanaman dengan sistem ini, selain mudah juga dapat memanfaatkan barang-barang yang tidak terpakai lagi di rumah anda. Jenis tanaman hidroponik yang biasanya ditanam dalam sistem wick ini seperti kangkung, bayam, seledri, selada, cabe dan tanaman kecil lainnya

“Contoh penanaman hidroponik sistem wick”

Persiapan alat dan Bahan

Sebelum kita mulai cara membuat hidroponik dengan sumbu (sistem wick) ini, kita sebaiknya menyediakan alat dan bahan yang diperlukan terlebih dahulu. Berikut ini adalah alat dan bahan pembuat sistem wick.

  1. Sediakan alat yang berguna untuk pot tanaman, seperti pot bekas, ember, kaleng bekas cat, botol, atau wadah bekas lainnya di sekitar rumah anda.
  2. Sumbu yang diperlukan, anda dapat menggunakan bekas sumbu kompor, kain flanel, dan atau kain yang menyerap air
  3. Pemilihan media tanam, anda bisa menggunakan sekam, serabut kelapa, arang, pecahan bata, rockwool, kerikil, busa bekas kursi, kapas. Dan biasanya banyak yang menggunakan media tanam rockwool. Sebab rockwool lebih steril dan tahan terhadap penyakit

 

Anda dapat mudah mendapatkannya di toko pertanian atau membeli secara online di Ajairu Indonesia

Cara Menyemai Benih Hidroponik

Sebelum kita mulai menanam hidroponik ini, alangkah baiknya kita menyemai benih terlebih dahulu. Sehingga cara membuat hidroponik dengan sumbu (sistem wick) kita akan cepat panen. Menyemai benih memang tergolong mudah, namun jika tidak dilakukan dengan benar, bisa saja biji yang kita semai tidak dapat tumbuh. Berikut adalah cara menyemai benih hidroponik.

  1. Potong dadu rockwool yang telah kita sediakan sebelumnya. Kita potong kecil- kecil sekitar 2,5 x 2,5 cm. Atau bisa menggunakan media tanam
  2. Basahi rockwool atau media tanam lainnya, agar tidak terlalu basah cukup dengan menciprat-cipratkan air saja. Karena rockwool yang terlalu basah dapat mengakibatkan beberapa hal, seperti membusuknya benih yang dimasukkan kedalam lubang rockwool, dan sulitnya pengkondisian roockwol ketika ingin dipindahkan.
  3. Kemudian buat lubang di tengah media tanam tersebut. Jangan melubangi terlalu dalam karena dapat berakibat tidak tumbuhnya benih, lalu masukkan 2 atau 3 biji benih kedalam lubang yang sudah kita buat Memasukkan benih lebih dari satu bertujuan untuk memberikan cadangan bagi benih yang kemungkinan nantinya tidak tumbuh.
  4. Tata dan simpan dalam wadah lalu tempatkan di tempat yang tidak terkena air hujan dan tutup dengan sesuatu penutup agar menjaga kelembaban Tunggu beberapa hari hingga telah tumbuh calon tanaman tersebut.

Pengkondisian nutrisi tanaman

Berdasarkan alat yang digunakan dalam praktek ini adalah bak yang berukuran lebih kurang 10 liter air, maka air yang digunakan (dimasukkan kedalam bak) adalah 7 liter. Sesuai instruksi pakde, bahwa dalam setiap liter air itu perbandingannya adalah 2 ml larutan A dan 2 ml larutan B. karena kita menggunakan air sebanyak 7 liter, maka total larutan yang dicampurkan adalah masing-masingnya 14 ml. Selanjutnya dapat diukur dengan alat ukur ppm, untuk kebutuhan tanaman yang akan ditanam pada praktek kali ini adalah berkisar 700an ppm. Perlu diketahui, bahwa ukuran ppm itu berbeda dari satu tanaman dengan tanaman lainnya. Silahkan dicari di situs terpercaya, Insyaalloh daftar kebutuhan tanaman akan kondisi ppm ada disana. Karena alat dan bahan yang ada di lokasi magang ku sudah tersedia, maka tanaman yang sudah siap pindah atau tanam maka dapat dipindahkan kedalam instalasi hidropnik wick.

Demikian cara hidroponik sederhana dengan sistem wick. Sebenarnya ada berbagai macam jenis hidroponik, seperti sistem NFT, Dutch Bucket, Autopot, fertigasi, drip, rakti apung, dan lain-lain. Tapi karena saya baru nyoba yang sistem wick, jadi baru ini saja yang saya tulis. Tetapi, pada dasanya sama. Hanya saja perbedaan menonjolnya terletak pada sistem dan prinsip kerjanya.

 

Vertical System (Tower)

Setalah menunaikan 4 rakaat dzuhur, pakde kembali membimbing saya. Kali ini tentang instalasi yang bentuknya secara vertikal atau biasa mereka menyebutnya tower. Teknik ini adalah teknik yang dilakukan dengan tujuan memanfaatkan lahan terbatas/sempit agar lebih optimal. Dengan teknik vertikultur kita bisa menanam dengan 20 sampai 40 tanaman bahkan lebih pada lahan yang sempit. Coba kita bayangkan berapa banyak luas lahan yang dibutuhkan jika seandainya tanaman tersebut dibudidayakan secara konvensional.

“Contoh penanaman lettuce dengan sistem vertikal”

Sejauh ini, tentang teknik vertikultur, saya dapat membedakannya menjadi 2 jenis yaitu : vertikultur konvensional dan vertikultur hidroponik. Tapi tidak tau, apakah sudah dibedakan ke beberapa jenis lagi. Karena saya lagi belajar tentang hidroponik, jadi pembahasn kita kerucutkan ke vertikultur hidropnik.

Yang membedakan teknik ini dengan teknik vertikultur konvensional adalah media tanam yang digunakan. Pada vertikultur hidroponik tidak menggunakan media tanam tanah, melainkan media tanam non-tanah yang lazim digunakan pada sistem hidroponik, misalnya cocopeat, arang sekam, rockwoll, perlite atau yang lainnya. Sedangkan sistem hidroponik yang bisa diaplikasikan bermacam-macam, bisa sistem wick/sistem sumbu, sistem dutch bucket, NFT atau sistem fertigasi.

Contoh jenis – jenis tanaman yang bisa ditanam dengan teknik vertikultur misalnya kangkung, bayam, sawi/pakcoy, bawang merah, tomat, cabai besar, cabai rawit, cabai hias, selada, kemangi, terung dan lain sebagainya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan, jika anda memutuskan untuk menggunakan system vertikal. Syarat utama dalam membuat vertikultur adalah kuat agar tidak mudah roboh dan mudah dipindahkan. Ukuran wadah atau pot vertikultur disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan dibudidayakan. Untuk jenis tanaman sayuran daun seperti sawi, bayam, kangkung, caisim bisa menggunakan botol bekas air mineral atau pipa paralon berdiameter 3 inci. Sedangkan untuk menanam sayuran buah seperti tomat, terung, cabai besar atau cabai rawit sebaiknya menggunakan wadah yang berukuran lebih besar agar mampu menampung media tanam lebih banyak, jika menggunakan pipa paralon gunakan yang berdiameter minimal 4 inci. Media tanam yang digunakan harus memenuhi syarat, yakni gembur/porous dan memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Sebagian besar tanaman memerlukan sinar matahari agar mampu tumbuh secara maksimal, oleh sebab itu lokasi penempatan pot vertikultur harus diperhatikan. Letakkan tanaman vertikultur pada tempat yang tersinari matahari, minimal 6 jam sehari.

Teknik vertikultur diciptakan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan sempit untuk berkebun atau bercocok tanam. Bagi anda yang tinggal diperkotaan atau tidak memiliki lahan yang cukup, teknik vertikultur sangat cocok untuk menyalurkan hobi berkebun anda. Berkebun vertikultur memiliki manfaat ganda, selain untuk memenuhi kebutuhan dapur juga berfungsi sebagai tanaman hias. Tanaman vertikultur memiliki nilai seni dan unsur estetika yang tinggi. Perawatan dan pemeliharaan tanaman vertikultur juga mudah, tidak kotor dan bisa dipindah-pindah. Dengan teknik ini anda bisa menanam banyak tanaman meskipun lahan yang tersedia hanya sedikit.

Mengingat di Indonesia masih tersedia lahan pertanian yang sangat luas, teknik vertikultur sepertinya belum cocok diaplikasikan untuk budidaya secara komersial. Penerapan teknik vertikultur untuk tujuan komersial perlu mempertimbangkan aspek ekonomisnya, agar tidak mengalami kerugian akibat biaya produksi yang tinggi dengan hasil panen yang tidak sesuai. Jika hanya untuk menyalurkan hobi berkebun, teknik vertikultur sangat membantu. Namun jika dikembangkan secara besar-besaran untuk tujuan komersial, penerapan teknik vertikultur membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *