Catatan Maganger Hari ke-5 : belajar mint hidroponik

Catatan Maganger Hari ke-5 : belajar mint hidroponik

Tentang Tanaman Mint

Pelajaran hari ini adalah bagaimana cara memperbanyak tanaman mint atau biasa disebut daun mint (Mentha cordifolia). Terus terang, sebelumnya saya belum pernah mengenal yang namanya daun mint, tempat ini lagi-lagi memberikan hal yang belum pernah saya lihat sebelumnya, atau memang akunya yang masih kurang baca. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai aromaterapi, karena sifatnya dapat mengeluarkan aroma yang khas dan menenangkan. Aroma wangi daun mint disebabkan oleh adanya kandungan minyak atsiri berupa minyak menthol. Daun ini mengandung vitamin C, provitamin A, fosfor, besi, kalsium dan potassium.

“Menanam tanaman daun mint dengan cara hidroponik”

Selain kandungan nya yang begitu melimpah hal-hal positif yang baik bagi konsumen, ternyata masih banyak lagi manfaat yang dapat diberikan tanaman ini bagi manusia. Diantaranya adalah meningkatkan funsi pencernaan, membandtu menangani mual dan skit kepala, meringankan asma, berdampak baik bagi kesehatan mulut dan gigi, mengobati pilek, mendinginkan kulit dan masih banyak lagi. Itulah mengapa, tanaman ini sangat direkomendasikan untuk dibudidayakan, tidak harus produksi. Kebutuhan pribadi juga tak apa.

Sekarang pertanyaannya, apakah tanaman ini dapat diusahakan di sistem hidroponik? Jawabannya adalah Iyya. Untuk kamu yang ingin mencoba menanam mint, cobalah, ini tidak sulit. Yang terpenting untuk mint adalah lingkungan yang lembab, dan teduh selanjutanya nutrisi yang sesuai apabila itu dikondisikan di sistem hidroponik. Kamu bisa menciptakan kondisi ini dengan menaruh mint di bawah shading (peneduh/tudung), kemudian menyiramnya 2 kali sehari, sampai becek juga boleh, biar lembab.

Nah, kali ini saya ingin berbagi mengenai cara memperbanyak mint. Jika Anda ingin menanam daun mint, ada dua cara yang bisa dilakukan yakni dengan menanamnya dari benih atau dengan menggunakan batangnya. Menanam tanaman mint dengan menggunakan stek batang lebih cepat dan mudah dilakukan daripada menanamnya dari benih.

Hal pertama yang saya lakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Setelah semua alat dan bahan telah siap, maka tanaman tersebut sudah dapat diperbanyak dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Merendam batangnya dalam wadah yang beris air hingga muncul akar di bagian batang. Setelah akarnya muncul (bagian batang) maka batang tersebut dapat dipindahkan pada instalasi hidroponik yang telah dipersiapkan diawal
  2. Siapkan media tanamnya, untuk praktek kali ini saya menggunakan media tanam rockwool. Selain praktis, rockwool bisa lebih lama menyimpan air daripada media tanam lain. Namun anda bisa mencoba dengan media tanam lain seperti cocopeat atau sekam bakar, yang penting dalam proses stek jangan sampai

Potong rockwool dengan ukuran maksimal 3 x 3 x 3 cm, boleh kurang dari ukuran tersebut tetapi jangan sampa terlalu kecil.

  1. Tancapkan ruas batang mint ke dalam rockwool sedalam kira-kira 1
  2. Masukkan rockwool ke dalam netpot, usahakan rockwool menyentuh dasar netpot agar bisa terkena air pada waktu
  3. Letakkan semua netpot yang sudah berisi rockwool ke dalam wadah pembesaran (wadah yang sudah diisi nutrisi). Anda bisa menggunakan air nutrisi dengan kepekatan lebih dari 1000 ppm karena stek mint ini bisa dianggap sebagai tanaman yang sudah
  4. Dalam 10-15 hari akan mulai tumbuh akar pada ruas batang mint, apabila sudah mulai banyak dan panjang akarnya, maka mint sudah siap dipindahkan ke dalam sistem

 

NFT 72 Making 

Sebelum membahas mengenai cara membuat hidroponik dengan paralon (sistem NFT) secara lebih detil, terkadang orang bertanya kenapa media yang di pakai adalah paralon. Ya, ini merupakan salah satu pertanyaan wajar dan umum yang di tanyakan karena pada dasarnya masih ada beberapa media lain selain paralon yang dapat di gunakan untuk membuat hidroponik. Alasan kenapa paralon di gunakan adalah karena ketersediaannya yang cenderung lebih mudah di temukan. Selain itu, paralon juga mudah untuk di bentuk, misalnya saja untuk di lubangi dan di sambung dengan paralon lain. Tentu beberapa kemudahan ini akan memudahkan cara berkebun anda.

“Saat mengukur pipa peralon yang dibutuhkan untuk membuat sistem NFT”

Untuk cara membuat hidroponik dengan paralon ini, anda tidak perlu menyediakan beberapa bahan khusus. Bahan utama yang harus anda siapkan adalah paralon itu sendiri. Terdapat banyak ukuran paralon di pasaran yang dapat anda pilih, tentu anda dapat memilih ukuran tersebut berdasar mana yang anda inginkan. Selain itu, jangan lupa untuk menyiapkan sambungan paralon. Sambungan paralon ini di gunakan untuk menyambung beberapa paralon panjang untuk membuat semacam ‘komunitas’ tanaman. Tentu, anda juga harus mempersiapkan alat bor untuk melubangi beberapa paralon panjang dan yang terakhir adlah alat pemotong yang dapat digunakan untuk memotong paralon.

Berikut ukuran dan jumlah paralon yang perlu dipersiapkan :

  1. Pipa 1” 120 cm (5)
  2. Pipa 1” 45 cm (6)
  3. Pipa 1” 35 cm (10)
  4. Pipa 1” 30 cm (10)
  5. Pipa 1” 10 cm (2)
  6. Pipa 1” 6 cm (4)
  7. Sambungan “L” (10)
  8. Sambungan “T” (18)
  9. Pipa besar 120 cm (9)

Setelah semuanya sudah diukur dan ditandai, maka silahkan potong paralon tersebut menjadi potongan-potongan yang telah ditentukan ukurannya. Memotongnya menggunkan alat seadanya saja. Tetapi jika ada mesin pemotong, maka gunakan mesin tersebut supaya lebih mudah dan efisien.

Paralon besarnya dilubangi dengan jarak antar lubang lebih kurang 20 – 25 cm. Melubanginya dapat menggunakan bor dan mata bor yang sesuai.

Langkah berikutnya adalah memasang potongan-potongan paralon tersebut menjadi rangka hidroponik.

“Saat memasang atau merangkai sistem hidroponik NFT”
Catatan Magangers Hari ke-4 : belajar menanam sistem wick hidroponik

Catatan Magangers Hari ke-4 : belajar menanam sistem wick hidroponik

Hari ini, 09 Februari 2018 kembali saya tuliskan apa yang saya lakukan selama sehari penuh dan dengan target kata yaang telah ditetapkan. Hari ini masih tidak jauh berbeda dengan yang kemarin-kemarin, hanya saja yang saya lakukan hari ini lebih spesifik dan fokus hanya ke bebrerapa task saja. Yaitu di segmen sistem hidroponik wick dan vertical sytem making full.

Wick Sytem

Hidroponik dengan sumbu (sistem wick) merupakan teknik budidaya yang paling sederhana dan juga populer dipergunakan oleh para pemula. Wick sistem tergolong pasif dan nutrisi mengalir kedalam media tumbuhan dari wadah yang menggunakan sejenis sumbu. Cara membuat hidroponik dengan sumbu (sistem wick) ini bekerja dengan baik untuk tumbuhan dan tanaman kecil. Namun sistem ini tidak dapat bekerja dengan baik pada tanaman yang membutuhkan banyak air. Penanaman dengan sistem ini, selain mudah juga dapat memanfaatkan barang-barang yang tidak terpakai lagi di rumah anda. Jenis tanaman hidroponik yang biasanya ditanam dalam sistem wick ini seperti kangkung, bayam, seledri, selada, cabe dan tanaman kecil lainnya

“Contoh penanaman hidroponik sistem wick”

Persiapan alat dan Bahan

Sebelum kita mulai cara membuat hidroponik dengan sumbu (sistem wick) ini, kita sebaiknya menyediakan alat dan bahan yang diperlukan terlebih dahulu. Berikut ini adalah alat dan bahan pembuat sistem wick.

  1. Sediakan alat yang berguna untuk pot tanaman, seperti pot bekas, ember, kaleng bekas cat, botol, atau wadah bekas lainnya di sekitar rumah anda.
  2. Sumbu yang diperlukan, anda dapat menggunakan bekas sumbu kompor, kain flanel, dan atau kain yang menyerap air
  3. Pemilihan media tanam, anda bisa menggunakan sekam, serabut kelapa, arang, pecahan bata, rockwool, kerikil, busa bekas kursi, kapas. Dan biasanya banyak yang menggunakan media tanam rockwool. Sebab rockwool lebih steril dan tahan terhadap penyakit

 

Anda dapat mudah mendapatkannya di toko pertanian atau membeli secara online di Ajairu Indonesia

Cara Menyemai Benih Hidroponik

Sebelum kita mulai menanam hidroponik ini, alangkah baiknya kita menyemai benih terlebih dahulu. Sehingga cara membuat hidroponik dengan sumbu (sistem wick) kita akan cepat panen. Menyemai benih memang tergolong mudah, namun jika tidak dilakukan dengan benar, bisa saja biji yang kita semai tidak dapat tumbuh. Berikut adalah cara menyemai benih hidroponik.

  1. Potong dadu rockwool yang telah kita sediakan sebelumnya. Kita potong kecil- kecil sekitar 2,5 x 2,5 cm. Atau bisa menggunakan media tanam
  2. Basahi rockwool atau media tanam lainnya, agar tidak terlalu basah cukup dengan menciprat-cipratkan air saja. Karena rockwool yang terlalu basah dapat mengakibatkan beberapa hal, seperti membusuknya benih yang dimasukkan kedalam lubang rockwool, dan sulitnya pengkondisian roockwol ketika ingin dipindahkan.
  3. Kemudian buat lubang di tengah media tanam tersebut. Jangan melubangi terlalu dalam karena dapat berakibat tidak tumbuhnya benih, lalu masukkan 2 atau 3 biji benih kedalam lubang yang sudah kita buat Memasukkan benih lebih dari satu bertujuan untuk memberikan cadangan bagi benih yang kemungkinan nantinya tidak tumbuh.
  4. Tata dan simpan dalam wadah lalu tempatkan di tempat yang tidak terkena air hujan dan tutup dengan sesuatu penutup agar menjaga kelembaban Tunggu beberapa hari hingga telah tumbuh calon tanaman tersebut.

Pengkondisian nutrisi tanaman

Berdasarkan alat yang digunakan dalam praktek ini adalah bak yang berukuran lebih kurang 10 liter air, maka air yang digunakan (dimasukkan kedalam bak) adalah 7 liter. Sesuai instruksi pakde, bahwa dalam setiap liter air itu perbandingannya adalah 2 ml larutan A dan 2 ml larutan B. karena kita menggunakan air sebanyak 7 liter, maka total larutan yang dicampurkan adalah masing-masingnya 14 ml. Selanjutnya dapat diukur dengan alat ukur ppm, untuk kebutuhan tanaman yang akan ditanam pada praktek kali ini adalah berkisar 700an ppm. Perlu diketahui, bahwa ukuran ppm itu berbeda dari satu tanaman dengan tanaman lainnya. Silahkan dicari di situs terpercaya, Insyaalloh daftar kebutuhan tanaman akan kondisi ppm ada disana. Karena alat dan bahan yang ada di lokasi magang ku sudah tersedia, maka tanaman yang sudah siap pindah atau tanam maka dapat dipindahkan kedalam instalasi hidropnik wick.

Demikian cara hidroponik sederhana dengan sistem wick. Sebenarnya ada berbagai macam jenis hidroponik, seperti sistem NFT, Dutch Bucket, Autopot, fertigasi, drip, rakti apung, dan lain-lain. Tapi karena saya baru nyoba yang sistem wick, jadi baru ini saja yang saya tulis. Tetapi, pada dasanya sama. Hanya saja perbedaan menonjolnya terletak pada sistem dan prinsip kerjanya.

 

Vertical System (Tower)

Setalah menunaikan 4 rakaat dzuhur, pakde kembali membimbing saya. Kali ini tentang instalasi yang bentuknya secara vertikal atau biasa mereka menyebutnya tower. Teknik ini adalah teknik yang dilakukan dengan tujuan memanfaatkan lahan terbatas/sempit agar lebih optimal. Dengan teknik vertikultur kita bisa menanam dengan 20 sampai 40 tanaman bahkan lebih pada lahan yang sempit. Coba kita bayangkan berapa banyak luas lahan yang dibutuhkan jika seandainya tanaman tersebut dibudidayakan secara konvensional.

“Contoh penanaman lettuce dengan sistem vertikal”

Sejauh ini, tentang teknik vertikultur, saya dapat membedakannya menjadi 2 jenis yaitu : vertikultur konvensional dan vertikultur hidroponik. Tapi tidak tau, apakah sudah dibedakan ke beberapa jenis lagi. Karena saya lagi belajar tentang hidroponik, jadi pembahasn kita kerucutkan ke vertikultur hidropnik.

Yang membedakan teknik ini dengan teknik vertikultur konvensional adalah media tanam yang digunakan. Pada vertikultur hidroponik tidak menggunakan media tanam tanah, melainkan media tanam non-tanah yang lazim digunakan pada sistem hidroponik, misalnya cocopeat, arang sekam, rockwoll, perlite atau yang lainnya. Sedangkan sistem hidroponik yang bisa diaplikasikan bermacam-macam, bisa sistem wick/sistem sumbu, sistem dutch bucket, NFT atau sistem fertigasi.

Contoh jenis – jenis tanaman yang bisa ditanam dengan teknik vertikultur misalnya kangkung, bayam, sawi/pakcoy, bawang merah, tomat, cabai besar, cabai rawit, cabai hias, selada, kemangi, terung dan lain sebagainya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan, jika anda memutuskan untuk menggunakan system vertikal. Syarat utama dalam membuat vertikultur adalah kuat agar tidak mudah roboh dan mudah dipindahkan. Ukuran wadah atau pot vertikultur disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan dibudidayakan. Untuk jenis tanaman sayuran daun seperti sawi, bayam, kangkung, caisim bisa menggunakan botol bekas air mineral atau pipa paralon berdiameter 3 inci. Sedangkan untuk menanam sayuran buah seperti tomat, terung, cabai besar atau cabai rawit sebaiknya menggunakan wadah yang berukuran lebih besar agar mampu menampung media tanam lebih banyak, jika menggunakan pipa paralon gunakan yang berdiameter minimal 4 inci. Media tanam yang digunakan harus memenuhi syarat, yakni gembur/porous dan memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Sebagian besar tanaman memerlukan sinar matahari agar mampu tumbuh secara maksimal, oleh sebab itu lokasi penempatan pot vertikultur harus diperhatikan. Letakkan tanaman vertikultur pada tempat yang tersinari matahari, minimal 6 jam sehari.

Teknik vertikultur diciptakan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan sempit untuk berkebun atau bercocok tanam. Bagi anda yang tinggal diperkotaan atau tidak memiliki lahan yang cukup, teknik vertikultur sangat cocok untuk menyalurkan hobi berkebun anda. Berkebun vertikultur memiliki manfaat ganda, selain untuk memenuhi kebutuhan dapur juga berfungsi sebagai tanaman hias. Tanaman vertikultur memiliki nilai seni dan unsur estetika yang tinggi. Perawatan dan pemeliharaan tanaman vertikultur juga mudah, tidak kotor dan bisa dipindah-pindah. Dengan teknik ini anda bisa menanam banyak tanaman meskipun lahan yang tersedia hanya sedikit.

Mengingat di Indonesia masih tersedia lahan pertanian yang sangat luas, teknik vertikultur sepertinya belum cocok diaplikasikan untuk budidaya secara komersial. Penerapan teknik vertikultur untuk tujuan komersial perlu mempertimbangkan aspek ekonomisnya, agar tidak mengalami kerugian akibat biaya produksi yang tinggi dengan hasil panen yang tidak sesuai. Jika hanya untuk menyalurkan hobi berkebun, teknik vertikultur sangat membantu. Namun jika dikembangkan secara besar-besaran untuk tujuan komersial, penerapan teknik vertikultur membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

 

Catatan Magangers Hari ke-3  : akuaponik versus ikan gabus

Catatan Magangers Hari ke-3 : akuaponik versus ikan gabus

Karena di hari kedua beberapa dari teman-teman fokus di pembuatan instalasi hidroponik dan packagingnya, ada tugas yang belum sempat dilaksanakan, yaitu persiapan tempat untuk budidaya ikan gabus. Pagi kemarin kita menyelesaikannya. Sampai saat ini saya belum dapat memastikan, apakah ikan yang akan dibudidayakan itu hanya akan dibudidayakan, ataukah dijadikan salah satu sarana untuk pembuatan aquaponik.

Jika dilihat dari sisi lain ikan gabus selain dapat dijadikan pelengkap sarana aquaponik, Ikan gabus sangat potensial dijadikan sebagai makanan kesehatan, hal ini kerena mudah diperoleh di pasar, kandungan yang dimilikinya berupa protein, lemak, mineral dan vitamin yang sangat baik untuk kesehatan serta khasiat yang telah terbukti secara klinis dan beragam produk olahan dan berbagai jenis masakan yang dapat dibuat dari ikan gabus. Itulah mengapa, sangat direkomendasikan berbudidaya ikan gabus.

Di ruang pembuatan nutrisi, Hari ini saya berlama-lama di ruang ini untuk membantu mas yang ada disini sekaligus menanyakan beberapa pertanyaan tentang nutrisi yang akan diproduksi, mulai dari takaran dan lain sebagainya. Nutrisi yang digunakan adalah nutrisi AB mix tetapi dalam bentuk terpisah, yang kemudian disatukan dalam takaran tertentu dan jumlah tertentu. Kadang juga tergantung dari pesanan konsumen.

“Semua peralatan pemuatan larutan nutrisi stok sudah disiapkan”

Nutrisi hidroponik atau nutrisi AB Mix ada yang berbentuk cair dan ada juga yang berbentuk padat (serbuk). Disebut AB Mix karena memang terdiri dari nutrisi A dan Nutrisi B yang dikemas secara terpisah. Nutrisi ini tak dapat dicampur dalam satu tempat karena akan terjdi endapan. Nutrisi AB Mix cair maupun padat sebenarnya sama saja, hanya sedikit berbeda soal penggunaan, penyimpanan dan distribusinya. Nutrisi cair lebih prakstis digunakan karena bisa langsung dilarutkan dengan air menjadi larutan siap pakai dengan takaran sesuai kebutuhan. Akan tetapi nutrisi cair sedikit repot dalam pendistribusian maupun penyimpanan karena volumenya lebih besar. Sedangkan nutrisi padat (serbuk) volume kemasan lebih kecil sehingga pendistribusian dan penyimpanannya lebih mudah. Namun nutrisi padat (serbuk) harus dilarutkan terlebih dahulu menjadi larutan pekat (larutan induk) sebelum dicampur dengan air menjadi larutan siap pakai.

 

Pupuk yang digunakan dalam hidroponik maupun fertigasi adalah pupuk “water solluble”, artinya mudah larut dalam air. Sehingga pupuk-pupuk konvensional yang biasa dipakai petani seperti SP36, NPK Mutiara, Dolomit, kurang sesuai untuk digunakan dalam hidroponik karena kurang larut sempurna. Karena dikhawatirkan endapan dari pupuk- pupuk konvensional dapat menyumbat aliran perpipaan irigasi dalam sistem hidroponik maupun fertigasi

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa nutrisi bagi tanaman hidroponik merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Nutrisi hidroponik berfungsi sebagai pemasok utama kebutuhan air dan mineral bagi tanaman yang akan menentukan kualitas hasil tanaman hidroponik. Untuk itu pemberian nutrisi pada tanaman hidroponik haruslah dalam takaran yang tepat dari segi jumlah komposisi ion nutrisinya.

Sekadar catatan tambahan, bahwa ada kekurangan dan kelebihan pupuk AB Mix hidroponik ini. Keunggulannya dalah kelengkapan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Kekurangannya yaitu dapat meyebabkan tanaman terbakar bila diberikan pada tanaman dalam dosis yang terlalu banyak (berlebihan). Selain itu pupuk AB Mix hidroponik ini harus disesuaikan dengan jenis tanaman, apakah untuk sayur daun, buah, atau lainnya.

“Dengan dibantu pakde farmer, proses pelarutan nutrisi hari ini berjalan lancar”

Sebelum berkemas untuk kembali ke tempat tinggal masing- masing, pakde kembali memanggil saya untuk menyiapkan satu instalasi hidroponik yang akan digunakan (ditanami). Disini saya belajar bagaiman memindahkan tanaman yang sudah siap pindah. Kemudian dilanjutkan penyemprotan untuk tanaman-tanaman yang kurang lebih sudah melewati masa juvenil nya, karena pada saat panen, ditemukan di beberapa daun itu ada aphid.

 

Catatan Magangers Hari ke-2 : belajar membuat sistem nft dan vertical hydro

Catatan Magangers Hari ke-2 : belajar membuat sistem nft dan vertical hydro

Rabu, 07 februari memasuki hari kedua untuk melanjutkan belajar. Sesuai target saya, bahwa hari ini pengen ditempatkan di bagian pembuatan instalasi dan packaging. Berhubung salah satu dari temen yang ditempatkan disana berhalangan hadir, jadi pakde dan mas yang lain diarahkan untuk menyelesaikan instalasi NFT dan Vertikal yang sudah dipesan.

NFT system merupakan cara bertanam hidroponik dengan membagikan nutrisi pada tanaman melalui aliran air yang tipis. Nutrisi dibuat terus-menerus bersirkulasi. Bagian akar tanaman tidak semua terendam di dalam air nutrisi, akar yang tidak terendam air tersebut diharapkan mampu mengambil oksigen untuk pertumbuhan tanamannya.

“Membuat sistem NFT dari peralon”

Keunggulan hidroponik NFT adalah asupan oksigen yang lebih banyak untuk tanaman sehingga pertumbuhan bisa lebih maksimal. Pemakaian nutrisi yang lebih merata karena air terus-menerus berputar secara merata.

Kelemahan hidroponik NFT yang umum dijumpai adalah masalah daya listrik. Sirkulasi air bagaimanapun dipompa oleh alat yang memakai tenaga listrik, ketika dalam keadaan mati lampu otomatis tanaman tidak mendapatkan nutrisi karena di pipa instalasi tidak ada persediaan air.

Hidroponik NFT idealnya dibuat dengan menggunakan media datar seperti talang air yang persegi, permukaan yang rata akan membuat air nutrisi mengalir secara merata juga. Akan tetapi Anda bisa juga memakai pipa paralon, hanya saja pastikan Anda menyambungnya dengan sambungan L, bila memakai Pokshok Anda telah membuat hidroponik DFT. Bila memakai dove, berarti Anda sedang membuat instalasi hidroponik sistem sumbu (Wick System).

Setelah instalasi NFT dibuat dan dipastikan dalam keadaan lengkap, maka seluruh alat-alat demikian akan disusun rapi dan dilanjutkan dengan packaging sedemikian rupa supaya kiriman dapat sampai ke tujuan.

“Proses melubangi paralon”

Nutrisi merupakan komponen penting dalam tanaman, dalam sistem hidroponik, dosis nutrisi harus diperhatikan agar tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh dengan baik. Penting untuk mengetahui seberapa besar dosis ppm hidroponik yang harus diberikan pada tanaman karena kebutuhan nutrisi setiap tanaman berbeda-beda. Secara umum dosis yang dibutuhkan tanaman yang dapat dibudidayakan dalam intalasi hidroponik adalah berkisar 700 an hingga 1500 an.

Untuk menentukan rentan dosisnya disesuaikan dengan musim dan umur tanaman, pada musim hujan tanaman biasanya membutuhkan nutrisi yang lebih banyak, sehingga penentuan dosisnya menggunakan dosis yang lebih tinggi, begitupun sebaliknya.

Selain ppm, PH juga sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kisaran PH pada umumnya adalah 5,5 hingga 6.

 

Catatan Magangers Hari ke-1 : belajar hidroponik

Catatan Magangers Hari ke-1 : belajar hidroponik

Ajairu Indonesia merupakan salah satu tempat yang menyediakan berbagai fasilitas hidroponik hingga pelatihan yang sifatnya offline maupun online. Hari ini, selasa 06 februari 2018 saya diberi kesempatan untuk menimba ilmu di tempat ini. Seperti biasa umumnya dipertemuan pertama, selalu diawali dengan perkenalan supaya dapat terjalin komunikasi yang baik. Beberapa hal yang menurut saya sangat langka yang saya temukan di tempat ini adalah kebiasaan atau kultur yang diawali dengan tadarus bersama, lalu morning meeting yang isinya merupakan laporan dari hasil di hari kemarin yang telah dikerjakan, kemudian dilanjutkan dengan Sholat dhuha di masjid dekat kediaman pemilik tempat ini. Saya tidak begitu paham dan mengerti mengapa hal demikian sangat ditekankan oleh pemilik usaha ini tapi saya sangat apresiasi dan berharap usaha yang akan saya bangun kelak juga akan diterapkan aktifitas pengawal pagi yang sudah diterapkan di tempat ini. Hehe

Tidak banyak yang saya lakukan di pertemuan perdana, Sebisa mungkin saya bergaul dan membangun komunikasi dengan teman-teman yang ada disana dan mencoba memahami apa saja yang mereka kerjakan. ada yang bekerja di bagian instalasi hidroponik sekaligus peckaging nya, ada yang di ruang nutrisi dan perbenihan, ada yang di bagian periklanan dan melayani pelatihan online dan ada yang bergerak di on farm.

Karena alasan kedatanganku adalah ingin praktik langsung tentang apapun yang berkaitan hidroponik, jadi saya diberikan kesempatan lebih dengan salah satu teman yang bergerak di bagian on farm. Pakde sambil bekerja menjelaskan setiap yang menurutnya itu perlu dijelaskan. Sesering mungkin aku mencoba melontarkan pertanyaan supaya bisa memaksimalkan kesempatanku.

 

“Saat dirimu ingin membangun usaha, yang pertama kamu fikirkan jangan keuntungan belaka. Tapi bagaimana kamu bisa istiqomah

mengusahakannya” ( Ajairu Indonesia )